Kenali Perbedaan Hard Selling dan Soft Selling untuk Kemajuan Bisnis

Hard selling dan soft selling adalah metode yang digunakan untuk memasarkan suatu produk dalam dunia marketing. Masing-masing metode tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda, meski memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, pastikan Anda mengetahui definisi sekaligus perbedaan dari keduanya sebelum memutuskan akan menggunakan metode yang mana untuk memasarkan produk Anda.

Pengertian Hard Selling dan Soft Selling

Hard selling merupakan sebuah metode pemasaran secara langsung dan terbuka. Tujuan dari metode ini agar konsumen dapat terdorong untuk segera melakukan transaksi pada produk yang diiklankan.

Sedang metode pendekatan soft selling secara sederhana dapat diartikan sebagai penjualan halus. Metode ini cenderung dilakukan secara tersirat dan efeknya tidak ditujukan untuk konsumen melaksanakan transaksi secara langsung.

Perbedaan Hard Selling dan Soft Selling

Apabila dilihat dari definisinya memang kedua istilah marketing ini secara umum memiliki arti yang berbeda. Namun ada tiga aspek spesifik yang membedakan antara hard selling dan soft selling. Simak perbedaannya berikut ini:

perbedaan hard selling dan soft selling

1. Jangka Waktu Penjualan

Sebagaimana yang Anda ketahui, bahwa hard selling memang menggunakan metode pendekatan yang dilakukan secara langsung dan tanpa menggunakan basa-basi.

Oleh karena itu, dalam penggunaan metode ini, konsumen langsung diminta untuk melakukan transaksi saat itu juga. Sehingga metode ini terbilang memiliki jangka waktu penjualan yang pendek.

Jika metode hard selling memiliki jangka waktu penjualan yang pendek, maka metode soft selling memiliki target jangka waktu penjualan yang relatif panjang. Selain berdampak pada penjualan, metode yang dilakukan secara jangka panjang juga bertujuan untuk memperluas jangkauan konsumen.

Hal ini bisa dibuktikan dari penelitian-penelitian yang menyebutkan bahwa sebagian besar orang dengan senang hati akan merekomendasikan suatu produk yang diiklankan dengan metode soft selling.

2. Ketertarikan Konsumen

Aspek kedua yang membedakannya adalah ketertarikan konsumen. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsumen lebih tertarik akan suatu produk jika pemasarannya dilakukan dengan pendekatan soft selling.

Mengapa begitu? Karena dengan metode tersebut konsumen akan dibuat penasaran. Sehingga dengan sendirinya konsumen akan mengekspor apa saja yang ada dalam produk tersebut. Cukup menarik, bukan?

Tak heran jika metode soft selling-lah yang paling sering digunakan oleh brand untuk membangun ikatan antara konsumen dengan perusahaan. Tak hanya itu, metode ini juga dapat digunakan untuk membangun image dari suatu perusahaan.

Berbeda dengan metode soft selling, pada aspek ketertarikan konsumen metode hard selling cenderung bersifat singkat dan kurang kuat. Sehingga, metode seperti ini kurang direkomendasikan untuk membangun ketertarikan dan ikatan dengan konsumen.

3. Brand Pengguna

Tentu saja setiap brand atau perusahaan berhak menentukan metode mana yang ingin digunakannya, apakah menggunakan metode hard selling atau metode soft selling. Bahkan, suatu perusahaan juga mungkin menggunakan kedua metode sekaligus dalam melakukan teknik penjualan.

Hal ini tergantung dari tujuan pemasaran yang dilakukan.

Meski begitu, memang ada beberapa industri yang biasanya menggunakan metode yang sama secara terus-menerus. Contohnya metode hard selling umumnya digunakan untuk industri perbankan, telemarketing, atau asuransi. Sementara metode soft selling lebih sering digunakan pada bidang manufaktur, konsultan, dan sebagainya.

Sebelum memutuskan akan menggunakan metode yang mana, pastikan dulu apa tujuan pemasaran Anda agar dapat menentukan metode yang paling tepat. Jika masih bingung, Anda dapat menggunakan layanan dari Casa Kreatif. Casa Kreatif akan membantu Anda memilih metode yang paling tepat untuk pemasaran produk Anda.

Tinggalkan komentar