Artikel Terkait
Apa itu PR dan Mengapa Bisnis Membutuhkannya
Mengenal Jenis-Jenis Media Relations dalam Strategi PR
Cara Membuat Media List yang Efektif untuk Kampanye PR
Cara Memilih Narasumber yang Tepat untuk Media Relations
Cara Membuat Konten Media Relations yang Layak Jadi Berita
PR Package: Strategi Mengirim Produk ke Influencer yang Benar (Bukan Sekadar Bagi-Bagi Gratis)
Apa Itu Media Relations? (Definisi + Konteks)
Media relations adalah proses membangun dan memelihara hubungan strategis antara sebuah organisasi dengan jurnalis, editor, dan media dengan tujuan menghasilkan liputan yang akurat, konsisten, dan relevan untuk publik yang dituju.
Kata kuncinya: hubungan. Bukan distribusi. Bukan pengiriman. Hubungan.
Brand yang salah memahami ini akan terus berpikir bahwa media relations adalah soal volume berapa banyak wartawan yang dikirimi rilis, berapa banyak media yang masuk media list. Padahal satu hubungan yang dalam dengan satu editor senior di media yang tepat nilainya jauh lebih tinggi dari seribu email blast yang tidak pernah dibaca.
Bedanya Media Relations dengan PR, Humas, Publicity, dan Media Buying
Keempat istilah ini sering dipakai bergantian. Padahal masing-masing punya ruang lingkup yang berbeda:
| Istilah | Fokus Utama | Hubungan dengan Media | Bayar / Tidak? |
| Media Relations | Membangun relasi dengan jurnalis & editor | Dua arah, berbasis kepercayaan | Tidak (earned) |
| PR (Public Relations) | Mengelola persepsi publik secara luas | Salah satu dari banyak channel | Campuran |
| Humas | Komunikasi institusional (sering di sektor publik) | Formal, sering reaktif | Tidak |
| Publicity | Eksposur media sebanyak mungkin | Satu arah, berbasis momentum | Kadang ya |
| Media Buying | Menempatkan pesan di ruang iklan media | Transaksional, berbayar | Ya (paid) |
Media relations adalah subset dari PR tapi ia adalah subset yang paling strategis, karena ia yang membentuk bagaimana brand diceritakan oleh pihak ketiga yang independen. Liputan yang earned (bukan dibayar) jauh lebih dipercaya publik dibanding iklan apapun.
Mengapa Media Relations Bukan Sekadar Kirim Press Release
Inilah POV Casa Kreatif yang perlu kamu pahami sejak awal: media relations bukan tentang seberapa sering kamu mengirim press release. Media relations adalah tentang siapa yang kamu bangun relasinya.
Seorang wartawan rata-rata menerima 50–100 email pitch per hari. Dari jumlah itu, kurang dari 5% yang benar-benar dibaca sampai selesai. Sisanya? Delete, tanpa dibaca lebih dari subject line.
Yang menentukan apakah rilis kamu masuk 5% itu bukan kualitas tulisanmu saja tapi apakah si wartawan sudah pernah berinteraksi denganmu sebelumnya, apakah kamu pernah memberi mereka informasi yang berguna tanpa imbalan, apakah kamu tahu angle yang relevan dengan beat mereka.
Cara Kerja Jurnalis: News Value, Editorial Agenda, dan Ritme Produksi
Untuk bisa membangun relasi yang nyata, kamu harus memahami dunia jurnalis bukan hanya keinginan brandmu sendiri.
- News Value: Jurnalis tidak meliput sesuatu karena kamu minta. Mereka meliput karena ada nilai berita kebaruan, dampak publik, relevansi, konflik, atau tokoh yang dikenal. Press release yang tidak memiliki news value tidak akan pernah jadi artikel, tidak peduli seberapa bagus copywriting-nya.
- Editorial Agenda: Setiap media punya kalender editorial tema bulanan, hari tematik, momentum nasional. Brand yang memahami ini bisa menawarkan angle yang tepat di waktu yang tepat, bukan sekadar menyebarkan update produk.
- Ritme Produksi: Jurnalis digital punya deadline harian, bahkan per jam. Menghubungi mereka dengan pertanyaan panjang dua jam sebelum deadline adalah cara paling cepat masuk daftar hitam. Brand yang menghormati ritme ini adalah brand yang akan diingat.
Pitching vs Titip Rilis: Apa Bedanya?
Dua pendekatan ini terlihat mirip dari luar, tapi hasilnya berbeda jauh:
| Titip Rilis | Pitching | |
| Definisi | Mengirim press release dan berharap dimuat | Menawarkan angle cerita yang relevan untuk media tertentu |
| Siapa yang dipikirkan | Brand sendiri | Pembaca media itu |
| Personalisasi | Minimal – blast ke banyak media | Tinggi – satu media, satu angle |
| Hubungan yang dibangun | Tidak ada | Bertahap, berbasis kepercayaan |
| Tingkat keberhasilan | Rendah (<5%) | Tinggi jika angle relevan (30–60%) |
Pitching yang baik dimulai dari riset: siapa wartawan ini, apa yang mereka tulis 3 bulan terakhir, dan mengapa cerita kamu relevan untuk audiens mereka bukan untuk brandmu.
Fungsi Utama Media Relations bagi Brand
Media relations bukan sekadar alat promosi. Dalam arsitektur komunikasi yang baik, ia menjalankan dua fungsi sekaligus:
Fungsi Strategis
- Reputasi Jangka Panjang: Liputan editorial yang konsisten membangun persepsi publik bahwa brand kamu adalah entitas yang kredibel dan layak didengar bukan karena kamu membayar untuk terlihat, tapi karena media independen memilih untuk menceritakanmu.
- Brand Positioning: Ketika brandmu dikutip sebagai rujukan dalam artikel tentang industri, kamu tidak hanya dapat eksposur kamu menempati posisi mental sebagai pemain yang dianggap serius di kategori itu.
- Topical Authority: Setiap artikel yang mengutip brand atau eksekutifmu sebagai narasumber adalah sinyal ke pasar bahwa kamu adalah otoritas di bidang tersebut. Ini yang disebut earned media dan nilainya tidak bisa dibeli dengan budget iklan.
Fungsi Operasional
- Distribusi Pesan: Media relations memperluas jangkauan pesan brandmu ke audiens yang tidak bisa kamu capai sendiri melalui owned media.
- Manajemen Krisis: Brand yang sudah punya hubungan dengan jurnalis sebelum krisis terjadi memiliki keuntungan besar mereka bisa menghubungi wartawan yang mereka kenal untuk memberikan konteks yang tepat, bukan sekadar mengirim siaran pers yang diabaikan di tengah krisis.
Media Relations sebagai Aset Jangka Panjang
| Casa POV
Brand yang tidak berinvestasi dalam media relations selama masa tenang akan sangat kesulitan saat masa krisis. Wartawan tidak mengenal orang yang baru mereka temui saat kebakaran. Mereka merespons orang yang sudah mereka kenal, percayai, dan hormati jauh sebelum ada masalah. |
Komponen & Elemen Media Relations yang Sehat
Media relations yang berfungsi dengan baik bukan satu aksi tunggal ia adalah sistem yang terdiri dari beberapa elemen yang saling mendukung:
| Elemen | Fungsi | Catatan Penting |
| Media List | Database jurnalis & editor yang relevan | Bukan list massal harus segmented per beat & media tier |
| Angle & News Value | Sudut cerita yang ditawarkan ke media | Harus relevan untuk pembaca media itu, bukan hanya untuk brand |
| Spokesperson | Wajah & suara resmi brand di hadapan media | Harus dilatih pesan yang konsisten adalah kunci |
| Follow-Up Protocol | Sistem tindak lanjut yang terstruktur | Tidak terlalu agresif, tidak menghilang ada jeda dan ada batasan |
| Relationship Tracking | Riwayat interaksi dengan tiap jurnalis | Siapa yang sudah dihubungi, kapan, respons apa, topik apa |
| Press Kit | Paket materi siap saji untuk jurnalis | Foto, fakta perusahaan, kontak, quote eksekutif |
Media list yang baik bukan sekadar daftar nama dan email. Ia harus mencantumkan beat jurnalis (topik yang mereka cover), media tier (nasional/lokal/vertikal), dan catatan tentang interaksi sebelumnya. Ini yang membedakan PR amatir dari PR profesional.
Cara Kerja Media Relations (Proses Step-by-Step)
Media relations bukan satu kali aksi ia siklus yang terus berputar. Berikut lima tahapan yang membentuk sistem media relations yang sehat:
1. Riset dan Pemetaan Media
Sebelum menghubungi satu pun wartawan, kamu harus tahu lanskap medianya. Siapa media yang audiensnya overlap dengan target market brandmu? Siapa jurnalis yang secara reguler meliput industri atau topik yang relevan?
- Identifikasi media tier: nasional, lokal, industri-spesifik (vertikal), dan digital-only.
- Peta jurnalis per beat jangan kirim rilis tentang teknologi ke wartawan lifestyle.
- Analisis konten yang mereka tulis 3 bulan terakhir untuk memahami angle yang mereka sukai.
2. Membangun Media List yang Relevan
Media list bukan spreadsheet nama dan email yang dikumpulkan dari internet. Media list yang efektif memuat:
- Nama jurnalis + jabatan + beat utama
- Nama editor / desk editor yang relevan
- Email yang aktif bukan email redaksi umum
- Channel preferensi (beberapa jurnalis lebih responsif via DM Twitter/LinkedIn)
- Catatan interaksi sebelumnya
Mulai dari 15–20 nama yang benar-benar relevan. Lebih baik dari 200 nama yang asal-asalan.
3. Menyiapkan Materi & Angle
Materi yang disiapkan bukan hanya press release. Package lengkap media relations mencakup:
- Press release yang ditulis dengan news value yang jelas
- Angle pitch yang dipersonalisasi untuk tiap media (bukan copy-paste)
- Quote siap pakai dari eksekutif atau spokesperson
- Data pendukung yang bisa dikutip
- Foto high-resolution (min. 2MP) yang siap publikasi
| Simulasi Realistis
Sebuah startup F&B di Malang ingin meliput peluncuran menu baru. Jika mereka hanya mengirim press release ke 30 media dengan teks yang sama, kemungkinan dimuat: di bawah 10%. Jika mereka menyesuaikan angle per media ke media kuliner lokal mereka pitch soal inovasi rasa, ke media bisnis mereka pitch soal ekspansi dan target revenue, ke lifestyle media mereka pitch soal pengalaman makan yang unik tingkat respons bisa naik 3–5x lipat dengan media list yang sama. |
4. Pitching & Follow-Up
Kirim pitch yang personal, singkat, dan relevan. Struktur pitch yang efektif:
- Subject line: spesifik, bukan ‘Press Release: [Nama Brand]’
- Paragraf pertama: mengapa ini relevan untuk pembaca MEREKA
- Isi singkat: fakta kunci, angle utama, 2–3 kalimat
- Call to action jelas: ‘Apakah Anda tertarik mendapat bahan lengkapnya?’
- Lampiran atau link bukan sebagai attachment besar
Follow-up: satu kali, 3–5 hari kerja setelah pitch pertama. Jika tidak ada respons setelah follow-up kedua, hormati keputusan mereka dan catat untuk referensi ke depan.
→[LINK: kesalahan-fatal-menghubungi-wartawan]
5. Memelihara Hubungan Pasca-Liputan
Inilah tahapan yang paling sering dilewati brand dan paling menentukan kualitas media relations jangka panjang.
- Ucapkan terima kasih yang tulus setelah liputan terbit personal, bukan template.
- Share artikel mereka di channel brand dengan mention yang layak.
- Pertahankan kontak bahkan di luar momen ada berita kirim data industri yang relevan, undang ke event, tawarkan akses eksklusif ke informasi.
- Jadilah sumber yang bisa diandalkan saat mereka butuh, bukan hanya saat kamu yang butuh.
Manfaat Media Relations untuk Brand
Ketika media relations dijalankan dengan benar berbasis hubungan, bukan distribusi ada lima manfaat nyata yang bisa diukur:
Kredibilitas Publikasi Meningkat
Iklan berbayar membeli eksposur. Liputan editorial membeli kepercayaan. Saat media independen menulis tentang brandmu tanpa diminta bayar, pembaca menerimanya dengan level kepercayaan yang jauh lebih tinggi. Ini yang disebut third-party validation dan tidak ada budget iklan yang bisa membelinya secara langsung.
Manajemen Krisis Lebih Aman
Brand yang punya relasi media yang baik memiliki ‘tabungan kepercayaan’ dengan jurnalis. Ketika krisis muncul, mereka tidak menghadapi kekosongan informasi yang akan diisi spekulasi. Mereka bisa secara proaktif memberikan konteks, meluruskan fakta, dan mengelola narasi bukan hanya reaktif merespons.
Pitching Advantage
Brand yang sudah punya relasi dengan jurnalis mendapatkan keuntungan nyata: pitch mereka dibaca, pertanyaan mereka dijawab, dan akses mereka ke informasi lebih cepat. Jurnalis punya waktu terbatas mereka akan memprioritaskan sumber yang sudah terbukti reliable.
Brand Jadi Rujukan di Kategori
Setiap kali jurnalis membutuhkan quote atau narasumber tentang topik industri, siapa yang mereka telepon pertama? Bukan brand yang paling besar atau paling kaya tapi brand yang paling mudah dihubungi, paling responsif, dan paling sering memberikan insight yang berguna. Posisi ‘go-to source’ ini adalah hasil akumulasi media relations yang konsisten.
Efisiensi PR Jangka Panjang
Brand baru yang tidak punya relasi media harus ‘membeli’ setiap liputan dengan effort tinggi per artikel. Brand yang sudah memiliki relasi media yang kuat mendapatkan liputan secara organik, karena jurnalis sudah tahu siapa mereka dan bagaimana menghubungi mereka. Ini investasi yang returnnya terus bertumbuh seiring waktu.
Kesalahan Umum dalam Media Relations
Sebagian besar kegagalan media relations bukan karena kurang anggaran. Tapi karena salah mengukur keberhasilan dari awal.
Jebakan KPI ‘Jumlah Berita Tayang’
Ini kesalahan paling mahal dan paling umum. Brand mengukur keberhasilan media relations dari jumlah artikel yang terbit bukan dari kualitas relasi, relevansi media, atau dampak bisnis nyata.
Akibatnya, mereka mengejar angka: kirim ke sebanyak mungkin media, bayar portal berita kecil untuk menerbitkan rilis tanpa editorial filtering, dan mengklaim ‘sudah diliput 50 media’ padahal 90%-nya adalah portal yang tidak dibaca siapapun dan tidak terindeks Google News.
| Casa POV
Satu artikel di Kompas.com atau IDN Times yang ditulis atas inisiatif jurnalis nilainya ribuan kali lebih tinggi dari 100 artikel di portal berita tanpa audiens yang dibayar per tayang. Kualitas relasi jauh lebih penting dari kuantitas klipping. |
4 Risiko Nyata bagi Marketing Manager
Ketika media relations dijalankan dengan paradigma yang salah, Marketing Manager menghadapi risiko konkret:
- Anggaran terkuras tanpa ROI: Biaya distribusi press release ke ratusan media, biaya ‘jasa liputan’ berbayar, dan biaya event press conference yang hasilnya minimal semua ini menguras budget tanpa membangun aset jangka panjang.
- Reputasi brand stagnan: Banyak berita tayang tapi tidak ada peningkatan brand recall, tidak ada jurnalis yang menghubungi balik secara inisiatif, dan tidak ada posisi sebagai rujukan industri.
- Krisis tanpa buffer: Ketika masalah muncul, tidak ada jurnalis yang sudah mengenal brand dan bisa memberikan liputan yang berimbang. Narasi dikuasai pihak lain.
- Tim PR tidak berkembang: Fokus pada aktivitas transaksional (kirim rilis, hitung klipping) membuat tim tidak membangun skill yang lebih strategis kemampuan pitching, storytelling, dan relationship management.
Pola PR Sebagai Aktivitas Rutin, Bukan Investasi
Banyak brand memperlakukan media relations seperti checklist bulanan: kirim rilis, hitung berapa yang dimuat, lanjut ke bulan depan. Tidak ada upaya untuk membangun hubungan, memahami kebutuhan jurnalis, atau menciptakan nilai di luar momen ada berita.
Media relations yang efektif adalah investasi jangka panjang. Return-nya tidak terlihat dalam 30 hari pertama. Tapi dalam 12–24 bulan, brand yang konsisten membangun relasi dengan benar akan memiliki aset yang tidak bisa dibeli kompetitor: trust jurnalis.
Cara Mengukur Efektivitas Media Relations (Selain Hitung Clipping)
Jika KPI-mu hanya jumlah artikel, kamu sedang mengukur aktivitas bukan dampak. Berikut perbandingan cara mengukur media relations yang lama vs yang direkomendasikan:
| Indikator Lama (Vanity) | Indikator Baru (Strategis) | Cara Mengukur |
| Jumlah rilis terkirim | Respons rate jurnalis | Reply email / kontak balik / artikel terbit |
| Jumlah artikel tayang | Kualitas media & DA | DA media, audiens aktif, Google News indexed |
| Jumlah media list | Depth relasi per jurnalis | Berapa jurnalis yang menghubungimu tanpa diminta? |
| Nilai klipping (AVE) | Share of Voice di kategori | Berapa % artikel industri yang menyebut brandmu? |
| Jumlah press conference | Brand jadi narasumber | Berapa kali dikutip sebagai expert di artikel orang? |
Tambahkan juga satu indikator kualitatif yang paling sering diabaikan: apakah ada jurnalis yang menghubungimu atas inisiatif mereka sendiri? Jika ya media relations kamu sedang berjalan. Jika tidak pernah ada yang perlu dievaluasi dari fundamentalnya.
→[LINK: cara-mengukur-dampak-pr]
Strategi Membangun Media Relations dari Nol
Tiga skenario brand yang paling umum, masing-masing butuh pendekatan yang berbeda:
Untuk Brand yang Belum Punya Relasi Media
Mulai bukan dengan press release mulai dengan memberi nilai tanpa imbalan.
- Ikuti jurnalis relevan di Twitter/X dan LinkedIn. Baca konten mereka. Engage secara genuine komentar yang substantif, bukan sekadar ‘great article!’
- Kirim data atau insight yang relevan untuk beat mereka, tanpa pitch produk. ‘Saya punya data tentang tren konsumen F&B di Malang yang mungkin relevan untuk artikel kamu’ tanpa menyebut brand.
- Hadiri event industri di mana jurnalis hadir. Bertemu langsung jauh lebih efektif dari email.
- Bangun 15–20 relasi yang dalam sebelum mulai pitching produk.
Untuk Brand yang Sudah Aktif PR tapi Belum Terstruktur
Audit dulu sebelum tambah aktivitas. Beberapa pertanyaan kunci:
- Dari semua media di list-mu, berapa yang pernah merespons pitch-mu dalam 6 bulan terakhir?
- Siapa 3 jurnalis yang paling sering meliput brandmu dan apakah kamu tahu nama editor atasan mereka?
- Apakah kamu punya spokesperson internal yang sudah ditraining untuk bicara ke media?
Setelah audit, fokus pada 20% media list yang sudah responsif. Investasikan lebih banyak waktu di sana sebelum memperluas ke media baru.
Untuk Marketing Manager yang Ingin Restrukturisasi
Ini tentang mengubah paradigma tim, bukan hanya menambah aktivitas:
- Reset KPI dari volume (jumlah rilis terkirim) ke kualitas (respons rate, earned media tier, inbound inquiry dari jurnalis).
- Buat relationship tracker spreadsheet atau CRM sederhana yang mencatat setiap interaksi dengan jurnalis.
- Alokasikan 30% waktu PR bukan untuk pitch aktif, tapi untuk membangun relasi tanpa agenda.
- Evaluasi agensi PR (jika ada) berdasarkan kualitas relasi mereka, bukan jumlah klipping yang dihasilkan.
Press Release sebagai Langkah Pertama Media Relations
Press release bukan inti dari media relations tapi ia sering menjadi titik masuk pertama yang membuka percakapan dengan jurnalis.
Kapan Press Release Tepat Digunakan
- Peluncuran produk atau layanan baru yang memiliki news value nyata
- Pengumuman partnership, merger, atau funding yang relevan untuk publik
- Respons krisis yang membutuhkan pernyataan resmi
- Event signifikan yang melibatkan tokoh publik atau dampak komunitas
- Data atau riset eksklusif yang bisa menjadi cerita
Yang tidak perlu press release: ulang tahun perusahaan ke-7, promo diskon 20%, atau pergantian kepala divisi internal. Jurnalis tidak membutuhkan informasi itu.
Apa yang Membuat Press Release Editorial (Bukan Promosi)
Press release yang editorial yang memiliki peluang nyata untuk diliput memiliki satu ciri: ia berguna untuk pembaca media itu, bukan hanya untuk brandmu.
- Ada angle yang menjawab pertanyaan pembaca, bukan hanya mengumumkan sesuatu
- Ada data atau fakta yang bisa dikutip
- Ada quote yang bisa langsung masuk ke artikel
- Gaya bahasa jurnalistik bukan bahasa marketing
- Isi bisa diverifikasi secara independen
→[LINK: press-release-adalah]
Pilihan Pendekatan Sesuai Tahap Brand
Tidak ada satu pendekatan media relations yang cocok untuk semua tahap bisnis. Berikut tiga opsi berdasarkan tahap dan kebutuhan:
| Pendekatan | Cocok Untuk | Fokus | Komitmen |
| Press Release Tunggal | Brand baru, momen spesifik, uji coba pertama | Satu berita, satu momen, satu pengiriman terkurasi | Rendah berbasis proyek |
| Konsultasi Media Relations | Brand yang ingin audit dan strategi tanpa eksekusi rutin | Evaluasi relasi existing, peta media, briefing tim internal | Sedang satu sesi strategis |
| PR Retainer | Brand yang ingin media relations sebagai fungsi berkelanjutan | Relasi jangka panjang, pitching reguler, manajemen krisis, spokesperson training | Tinggi komitmen bulanan |
Untuk brand yang baru memulai, press release tunggal adalah cara paling efisien untuk menguji respons media dan membangun titik kontak pertama. Hasilnya akan memberikan data nyata untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Kesimpulan
Tiga poin kunci yang harus kamu bawa dari panduan ini:
- Media relations adalah tentang siapa yang kamu bangun relasinya bukan berapa banyak press release yang kamu kirim. Satu hubungan yang dalam dengan jurnalis yang tepat mengalahkan seribu email yang tidak dibaca.
- Kesalahan paling mahal bukan salah kirim press release tapi salah mengukur keberhasilan. Jika KPI-mu masih jumlah klipping, kamu sedang mengukur aktivitas, bukan aset.
- Media relations adalah investasi jangka panjang dengan return yang bertumbuh. Brand yang mulai hari ini akan menuai hasilnya dalam 12–24 bulan. Brand yang menunda akan membayar lebih mahal saat krisis tiba.
| Casa Kreatif Build Authority. Control Perception.
Media relations yang benar dibangun dengan konsistensi, bukan dengan anggaran besar. Yang membedakan brand yang diliput dari brand yang diabaikan bukan ukuran perusahaan tapi seberapa dalam mereka dipercaya oleh orang-orang yang menulis berita. |
Siap mulai membangun media relations yang sebenarnya?
Casa Kreatif menyediakan layanan press release dan konsultasi media relations untuk brand yang ingin dikenal media bukan hanya dikirimi email. Mulai dari press release tunggal hingga PR retainer jangka panjang.
| → Hubungi Casa Kreatif untuk konsultasi media relations
[LINK: Halaman Layanan Press Release Casa Kreatif] |
FAQ: Pertanyaan yang Sering Dicari tentang Media Relations
Apa perbedaan media relations dan public relations?
Public relations (PR) adalah disiplin yang lebih luas mencakup semua upaya mengelola persepsi publik, termasuk media relations, community relations, crisis communication, dan corporate communication. Media relations adalah salah satu fungsi di dalam PR yang secara spesifik fokus pada hubungan dengan jurnalis dan media.
Apakah media relations masih relevan di era media sosial?
Justru semakin relevan. Di era di mana semua orang bisa membuat konten, liputan dari media independen yang kredibel menjadi semakin langka dan bernilai. Audiens yang terfragmentasi di media sosial membuat earned media artikel yang ditulis jurnalis tanpa dibayar memiliki bobot kepercayaan yang jauh lebih tinggi dari konten berbayar atau owned media.
Berapa lama membangun relasi media yang efektif?
Tidak ada angka pasti, tapi ekspektasi yang realistis: 3–6 bulan pertama adalah fase membangun kepercayaan tanpa hasil langsung. Mulai bulan ke-6 hingga 12, relasi yang dibangun dengan benar mulai menghasilkan liputan inbound jurnalis yang menghubungimu atas inisiatif mereka. Tahun ke-2 dan seterusnya adalah fase panen, di mana investasi relasi sebelumnya bekerja secara konsisten.
Apakah brand kecil atau UMKM bisa melakukan media relations?
Bisa dan sering kali lebih efektif dari brand besar. UMKM dengan cerita yang autentik, angle yang lokal, dan founder yang mau terbuka sering lebih menarik bagi jurnalis dibanding rilis korporat yang steril. Kuncinya: fokus pada media lokal dan media vertikal yang audiensnya relevan, bukan mengejar media nasional dari awal.
Apa yang harus dihindari saat pertama kali menghubungi wartawan?
Lima hal yang paling cepat merusak kesan pertama: mengirim attachment besar tanpa izin, mengirim pitch yang jelas-jelas tidak relevan dengan beat mereka, menelepon tanpa konfirmasi terlebih dahulu, mengirim follow-up berulang dalam 24 jam, dan menawarkan sesuatu yang bersifat transaksional pada kontak pertama. Pendekatan terbaik adalah memberi nilai dulu tanpa ekspektasi imbalan langsung.
Bagaimana cara tahu apakah media relations kami sudah berjalan dengan baik?
Satu indikator paling sederhana: apakah ada jurnalis yang menghubungimu atas inisiatif mereka sendiri bukan karena kamu mengirim rilis? Jika ya, relasi sudah mulai terbentuk. Indikator lain: respons rate pitch di atas 20%, dikutip sebagai narasumber tanpa diminta, dan artikel tentang industrimu mulai menyebut brand kamu sebagai rujukan.
Artikel ini adalah bagian dari seri edukasi Casa Kreatif tentang visibilitas digital untuk bisnis Indonesia.
Ditulis oleh Baharudin Gia – Pendiri Casa Kreatif, Media Distribution & PR Agency.
