Cara Menulis Press Release yang Lolos Kurasi Redaksi, Bukan Sekadar Dikirim

blank
panduan cara membuat press release struktur piramida terbalik
Struktur piramida terbalik adalah fondasi press release yang lolos kurasi redaksi — bukan sekadar terkirim.

Pukul sembilan pagi. Seorang editor di portal berita bisnis nasional membuka email kerjanya. Ada 214 pesan baru. Sebagian besar: siaran pers.

Ia tidak membaca semuanya. Ia tidak punya waktu untuk itu. Dalam 5 detik per email, ia memutuskan: buka lebih lanjut, atau arsip selamanya.

Pertanyaannya bukan apakah press release Anda layak diliput. Pertanyaannya adalah: apakah press release Anda lolos 5 detik pertama itu?

Ini bukan soal anggaran PR yang besar atau jaringan media yang luas. Ini soal cara menulis dan cara berpikir sebelum satu kata pun diketik.

Panduan ini dirancang untuk membantu Anda memahami standar redaksi dari dalam, menulis rilis yang berbicara dalam bahasa jurnalis, sekaligus memastikan artikel tersebut bisa ditemukan di Google setelah tayang. Dua pembaca, satu naskah.

Artikel Penting Lainnya

Contoh Press Release untuk Berbagai Kebutuhan Bisnis
Cara Membuat Press Release yang Layak Diterbitkan Jurnalis
Mengenal Konsep News Value dalam Pembuatan Siaran Pers


Mengapa Press Release Kebanyakan Brand Langsung Masuk Folder Arsip

Jawabannya konsisten dari satu redaksi ke redaksi lain: press release yang dikirim ditulis dari sudut pandang brand, bukan dari sudut pandang berita.

Hasilnya adalah naskah yang terasa seperti brosur produk penuh klaim superlatif, minim fakta keras, dan tidak ada sudut cerita yang membuat jurnalis berpikir “ini menarik untuk pembaca kami”.

Jurnalis tidak bertugas mempromosikan brand Anda. Tugas mereka adalah menyajikan informasi yang relevan dan menarik untuk audiens mereka. Press release yang baik membantu mereka melakukan itu bukan meminta mereka melakukan sesuatu untuk Anda.

Ini bukan soal jurnalis yang sulit atau redaksi yang pilih kasih. Ini soal mismatch fundamental: brand berpikir dalam bahasa marketing, jurnalis berpikir dalam bahasa berita. Dan keduanya tidak sama.

Berikut alasan penolakan yang paling sering terjadi, namun jarang disadari penulis press release:

Masalah Akibatnya
Nada copywriting, bukan berita Terdengar seperti iklan, langsung diarsip
Sudut pandang “kami” Kurang relevansi publik
Headline kabur atau hiperbola Tidak sesuai standar desk, diabaikan di 3 detik pertama
Tanpa konteks waktu & lokasi Tidak newsworthy
Tidak ada data keras Tidak bisa diverifikasi jurnalis
Tidak SEO-ready Hilang di keramaian setelah tayang

Press Release yang Tepat: Seperti Apa Hasilnya?

Sebuah UMKM kuliner di Malang mendistribusikan press release pembukaan gerai baru ke 20 portal berita berindeks. Dalam 14 hari: 9 artikel terbit, 3 backlink dari domain dengan DA di atas 35, dan nama brand mulai muncul di halaman pertama Google untuk keyword lokasi.

Bukan karena mereka punya anggaran besar. Tapi karena naskahnya ditulis dalam bahasa yang redaksi mengerti.

Contoh lain: sebuah hotel kecil di Batu meluncurkan paket “Remote Work Weekend” saat low season. Alih-alih menjual fasilitas, rilis menekankan tren perilaku tamu dan dampak ekonomi lokal. Sudut pandang yang dipilih: peningkatan permintaan hunian untuk pekerja remote dan kontribusi ke UMKM sekitar.

Hasilnya? Rilis tembus media regional dan satu media ekonomi nasional bukan karena viral, tapi karena nilai beritanya kuat.

Earned media bekerja berdasarkan logika editorial, bukan logika promosi. Semakin Anda memahami cara jurnalis memilih cerita, semakin tinggi probabilitas press release Anda tidak sekadar terkirim tapi benar-benar diterbitkan.


Sebelum Menulis: Tentukan Nilai Berita (Angle Newsroom) Dulu

Ini tahap yang paling sering dilewati, dan paling mahal konsekuensinya.

Banyak press release gagal bukan karena penulisannya buruk, tapi karena tidak ada nilai berita yang bisa ditawarkan ke redaksi. Naskah sepanjang apapun, dengan format secanggih apapun, tidak akan lolos jika angle-nya salah dari awal.

Pertanyaan penyaring sebelum mulai menulis:

“Apa nilai publik dari informasi ini tanpa menyebut produk kami?”

Jika Anda tidak bisa menjawab pertanyaan itu dalam satu kalimat, naskahnya belum siap ditulis.

Elemen yang Membuat Berita Layak Muat

1. Momentum (Kenapa sekarang?) Press release yang tidak punya konteks waktu terasa mengambang. Jurnalis butuh alasan untuk memuat berita hari ini, bukan bulan depan. Kaitkan dengan tren industri, momen musiman, kebijakan baru, atau data terkini.

2. Dampak Publik (Siapa yang terdampak?) Semakin spesifik dampak yang bisa dijelaskan, semakin kuat nilai beritanya. Bukan “bermanfaat untuk masyarakat luas” tapi “menargetkan 500 keluarga di kawasan perumahan X” atau “mempengaruhi proses akses layanan Y di tiga kota.”

3. Kebaruan atau Kontras (Apa yang baru atau berbeda?) Redaksi mencari cerita yang belum pernah ada. Apakah ini produk pertama di kategorinya? Apakah ini pendekatan yang berbeda dari standar industri? Apakah ini data yang belum pernah dipublikasikan?

4. Kredibilitas (Siapa yang terlibat?) Nama narasumber, lembaga sertifikasi, mitra, atau data dari sumber independen semuanya menambah bobot berita. Klaim tanpa atribusi adalah klaim yang tidak berguna bagi jurnalis.


Anatomi Press Release yang Siap Redaksi

Struktur piramida terbalik tetap menjadi standar. Informasi paling krusial di atas, detail pendukung di tengah, informasi konteks di bawah.

Kenapa terbalik? Karena editor bisa memotong dari bawah tanpa kehilangan inti cerita. Press release yang mengikuti logika ini jauh lebih mudah diedit dan diterbitkan.


5 Langkah Menulis Press Release Bergaya Jurnalistik

Langkah 1: Judul (Headline) yang Faktual dan Berorientasi Aksi

Judul press release bukan judul iklan. Tidak perlu superlative, tidak perlu tanda seru. Yang diperlukan: subjek yang jelas, predikat yang aktif, dan informasi yang cukup untuk membuat editor ingin membaca paragraf pertama.

Panjang ideal: 8–12 kata. Jika judul perlu tanda seru untuk terasa menarik, artinya kontennya yang bermasalah bukan huruf kapitalnya.

❌ Versi Iklan (Hindari) ✅ Versi Jurnalistik (Gunakan)
“Brand Kuliner Terbaik di Malang Resmi Hadir dengan Konsep Revolusioner!” “Warung Soto Pak Budi Buka Gerai Kedua di Kawasan Singhasari, Targetkan 200 Porsi Per Hari”
“Peluncuran Produk Inovatif yang Akan Mengubah Industri Kecantikan Indonesia” “Brand Kosmetik Lokal Avivi Luncurkan Lini Skincare Berbahan Dasar Ekstrak Temulawak, Harga Mulai Rp45.000”
“Perusahaan Kami dengan Bangga Mengumumkan Pembukaan Cabang Baru!” “Brand Hotel Butik X Buka Cabang di Kawasan Kayutangan Heritage, Tambah 80 Kamar Bisnis”

Langkah 2: Lead Paragraph Aturan Emas 5W+1H dalam Satu Paragraf

Paragraf pertama press release harus bisa berdiri sendiri. Jika editor hanya membaca satu paragraf ini dan tidak ada yang lain, ia sudah harus tahu: apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan, di mana, mengapa ini penting, dan bagaimana ini terjadi.

Panjang ideal: 40 hingga 60 kata. Tidak lebih. Jika Anda membutuhkan lebih dari 3 kalimat untuk menjawab 5W+1H, artinya ada informasi yang seharusnya tidak ada di lead.

Selain 5W+1H, tambahkan dua komponen yang sering dilupakan:

  • Kenapa sekarang? (momentum yang membuat berita relevan hari ini)
  • Siapa yang terdampak? (publik sasaran yang spesifik)

Contoh Lead yang Benar:

Warung Soto Pak Budi resmi membuka gerai keduanya di Jalan Raya Singhasari, Malang, pada Sabtu (12/7). Ekspansi ini menjadi langkah pertama merek kuliner lokal tersebut untuk menarget segmen konsumen kelas menengah di kawasan Malang Utara, setelah mencatat rata-rata 350 porsi per hari di gerai pertamanya sejak 2021.

Mengapa ini bekerja: Ada lokasi spesifik, ada tanggal, ada konteks pertumbuhan yang bisa diverifikasi, dan ada target pasar yang jelas tanpa satu pun kata “terbaik” atau “bangga”.


Langkah 3: Body Paragraph Data dan Detail yang Membangun Konteks

Di sinilah banyak press release kehilangan kredibilitas. Body yang kuat berisi: angka spesifik, data perbandingan, latar belakang situasi yang relevan, dan informasi yang memberi editor bahan untuk menulis artikel lebih panjang jika mereka mau.

Yang tidak boleh ada di body: klaim tanpa data, pernyataan umum yang bisa dipakai untuk produk apapun, dan pengulangan poin yang sudah ada di lead.

❌ Body yang Lemah ✅ Body yang Kuat
“Produk kami hadir untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat di era modern ini.” “Berdasarkan data internal, permintaan menu soto di kawasan Singhasari meningkat 40% dalam dua tahun terakhir, didorong oleh pertumbuhan perumahan baru di radius 5 km dari lokasi gerai.”
“Klinik kami menghadirkan berbagai perawatan terbaik untuk kulit sehat glowing dengan harga terjangkau.” “Klinik Kesehatan Kulit Y merilis program konsultasi dermatologi berbasis data untuk pasien pasca-perawatan akne, menargetkan peningkatan literasi perawatan kulit melalui kolaborasi dengan dua rumah sakit rujukan regional.”

Tips untuk body yang lebih kuat:

  • Gunakan angka nyata, bukan estimasi samar (“meningkat signifikan” → “meningkat 40% YoY”)
  • Sertakan perbandingan yang bisa divisualisasikan (“setara dengan kapasitas 3 gedung serba guna”)
  • Cantumkan sumber data jika bukan milik internal (“berdasarkan laporan BPS 2024” atau “menurut survei Asosiasi X”)

Langkah 4: Kutipan Resmi (Quotes) yang Memberi Sudut Pandang

Kutipan dalam press release bukan formalitas. Ini adalah satu-satunya tempat di mana subjektivitas diperbolehkan karena atribusinya jelas (nama dan jabatan). Jurnalis menggunakan kutipan untuk memberi dimensi manusiawi pada berita.

Kutipan yang baik harus menyampaikan sesuatu yang tidak bisa disampaikan dalam format fakta biasa strategi, visi, atau posisi yang khas.

❌ Kutipan Normatif (Hindari) ✅ Kutipan Berisi (Gunakan)
“Kami sangat senang dan bangga dengan pembukaan gerai baru ini. Semoga bisa melayani lebih banyak pelanggan.” “Kami sengaja tidak membuka gerai di pusat kota. Konsumen yang kami incar adalah keluarga muda yang tinggal di perumahan baru mereka butuh pilihan makan siang yang bisa dijangkau dalam 10 menit,” kata Budi Santoso, pemilik Warung Soto Pak Budi.
“Produk ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus berinovasi demi pelanggan setia.” “Kami tidak klaim produk ini terbaik di pasar. Tapi ini adalah satu-satunya yang menggunakan ekstrak temulawak Jawa Timur dengan proses cold-press yang mempertahankan 80% kandungan aktifnya,” ujar Rina Dewi, Chief Product Officer Avivi.

Satu press release idealnya memuat satu atau dua kutipan dari dua narasumber berbeda jika memungkinkan (misalnya: pimpinan internal + mitra eksternal). Lebih dari dua kutipan, naskah mulai terasa berat.


Langkah 5: Boilerplate dan Kontak Media

Boilerplate adalah paragraf singkat tentang perusahaan satu paragraf, maksimal 60 kata, ditulis dalam present tense. Ini bukan tempat untuk promosi. Ini adalah referensi cepat bagi jurnalis yang belum mengenal brand Anda.

Kontak media harus mencantumkan:

  • Nama spesifik (bukan hanya “Tim Humas”)
  • Nomor HP yang aktif dan responsif
  • Alamat email yang dicek setiap hari

Jurnalis yang tertarik akan menghubungi untuk verifikasi atau wawancara lanjutan. Jika tidak ada yang bisa dihubungi dalam 2 jam, peluang itu biasanya berlalu.


Bahasa Jurnalistik vs Bahasa Iklan: Perbedaan yang Tidak Bisa Dikompromikan

Jurnalis dilatih untuk meragukan klaim superlatif. Frasa seperti “terbaik di kelasnya”, “satu-satunya di Indonesia”, atau “solusi inovatif” tidak memiliki nilai berita justru sebaliknya, ia membuat editor mencurigai seluruh konten press release tidak objektif.

Prinsip sederhana: jika klaim Anda tidak bisa dibuktikan dengan data, hapus.

Bahasa Iklan Bahasa Jurnalistik
“Harga terjangkau” “Harga mulai Rp35.000, 30% di bawah rata-rata kompetitor di segmen yang sama”
“Produk terbaik di kelasnya” “Satu-satunya produk di kategori ini yang telah mendapat sertifikasi BPOM nomor [X]”
“Meningkatkan kualitas layanan” “Mempersingkat waktu tunggu dari rata-rata 45 menit menjadi 15 menit”
“Inovatif dan revolusioner” “Pertama menggunakan teknologi [X] di pasar Indonesia”
“Kami sangat bangga mengumumkan” “[Nama perusahaan] hari ini mengumumkan…”

Satu hal teknis yang sering dilewati: lampirkan foto resolusi tinggi (minimum 1200px) dalam link Google Drive atau WeTransfer yang bisa diakses publik bukan attachment email. File berat di email langsung membuat pesan masuk folder spam di banyak server redaksi.


SEO untuk Press Release: Supaya Tidak Hilang Setelah Tayang

Press release yang dimuat di media tapi tidak bisa ditemukan di Google sama saja dengan hilang di keramaian informasi. Optimasi SEO untuk press release bukan tentang memasukkan sebanyak mungkin keyword tapi memastikan konten bisa menjembatani redaksi sebagai gatekeeper dan algoritma Google sebagai penghubung ke publik.

Panduan SEO untuk Press Release

1. Satu keyword utama, dua hingga tiga keyword turunan Pilih satu keyword primer yang paling relevan dengan topik utama berita. Misalnya: “press release skincare” sebagai primer, dengan turunan “cara menulis press release produk kecantikan” dan “press release BPOM certified” yang masuk secara natural di body dan subjudul.

2. Subjudul H2/H3 yang mencerminkan struktur Judul dan subjudul bukan hanya pemandu pembaca ini adalah sinyal konten untuk mesin pencari. Pastikan H2/H3 mengandung kata kunci yang relevan, tapi tetap terasa natural dibaca manusia.

3. Alt-text gambar yang berbasis konteks Setiap gambar yang disertakan harus memiliki alt-text deskriptif, bukan hanya “gambar1.jpg”. Contoh yang benar: “press release peluncuran produk skincare temulawak Avivi 2025”.

4. Internal link yang relevan Jika press release Anda tayang di website brand sendiri sebelum didistribusikan, pastikan ada tautan ke halaman produk, halaman layanan, atau artikel terkait yang relevan tanpa berlebihan.


Cara Mengirim Press Release ke Media (Yang Sering Diabaikan)

Naskah yang sudah sempurna pun bisa gagal jika cara pengirimannya salah. Berikut standar yang perlu diperhatikan:

1. Kirim ke jurnalis atau editor yang meliput topik relevan bukan ke alamat umum redaksi Ini perbedaan antara pitching yang personal dan spam. Identifikasi nama jurnalis yang menulis tentang industri Anda, lalu kirim langsung ke mereka. Cara tercepat: lihat byline artikel yang relevan di media target, cari kontak penulisnya.

2. Tulis subjek email yang informatif Subjek email adalah versi kedua dari headline. Buat singkat, faktual, dan spesifik. Contoh: “Press Release: Warung Soto Pak Budi Ekspansi ke Malang Utara, 12 Juli 2025” bukan “Informasi Penting dari Pak Budi”.

3. Sertakan press release di badan email bukan hanya sebagai attachment Banyak server email di redaksi memfilter attachment dari pengirim tidak dikenal. Paste naskah langsung di body email, dengan attachment sebagai opsi tambahan.

4. Follow up satu kali setelah 2–3 hari kerja Satu follow-up yang sopan dan singkat adalah wajar. Lebih dari itu, Anda berisiko masuk daftar hitam kontak jurnalis.

5. Targetkan waktu pengiriman yang tepat Hindari Senin pagi (email menumpuk akhir pekan) dan Jumat sore (redaksi fokus closing edisi). Selasa hingga Kamis, pukul 09.00–11.00 adalah waktu terbaik untuk landing di atas kotak masuk.


Checklist Pra-Kirim (Anti-Ghosting)

Sebelum menekan tombol kirim, jalankan daftar periksa ini satu per satu:

  • [ ] Headline 8–12 kata, tidak hiperbola, tidak ada tanda seru
  • [ ] Lead menjawab apa-kenapa-sekarang dalam maksimal 60 kata
  • [ ] Semua klaim didukung data yang bisa diverifikasi
  • [ ] Kutipan berisi insight, bukan harapan atau ekspresi kebanggaan
  • [ ] Foto resolusi tinggi dikirim via link cloud, bukan attachment
  • [ ] Boilerplate dan kontak media lengkap dan akurat
  • [ ] Jurnalis/editor yang dituju relevan dengan topik berita
  • [ ] Keyword SEO masuk secara natural di judul dan body
  • [ ] Tidak ada klaim superlatif tanpa data pendukung

Dan satu pertanyaan terakhir sebelum kirim:

“Kalau saya adalah redaksi, apa alasan saya memilih rilis ini dibanding ratusan lainnya hari ini?”

Kalau belum yakin, jangan kirim dulu.


Casa POV

Press release bukan siaran iklan yang dikirim ke jurnalis. Ia adalah proposal berita Anda menawarkan bahan, editor memutuskan apakah itu layak diolah menjadi informasi untuk publik.

Begitu Anda memahami posisi itu, cara Anda menulis press release akan berubah. Dan tingkat penerimaan redaksi akan mengikuti.

Yang membuat press release bekerja bukan panjangnya, bukan banyaknya media yang dituju, dan bukan seberapa sering Anda follow up. Yang bekerja adalah seberapa mudah editor bisa mengambil naskah Anda, mengeditnya dalam 10 menit, dan menerbitkannya tanpa harus menggali ulang faktanya.

Itu standar yang layak diperjuangkan.


FAQ: Cara Menulis Press Release

Apa saja isi dari press release yang lengkap? Press release yang lengkap terdiri dari: judul (headline) berbasis fakta, tanggal dan kota penerbitan, lead paragraph yang menjawab 5W+1H, body paragraph berisi data dan detail pendukung, satu atau dua kutipan resmi dari perwakilan perusahaan, boilerplate (deskripsi singkat perusahaan), dan kontak media yang bisa dihubungi. Panjang total ideal: 400 hingga 600 kata.

Bagaimana struktur penulisan press release yang benar? Gunakan struktur piramida terbalik: informasi terpenting di paragraf pertama (lead), dilanjutkan detail pendukung di body, dan informasi konteks perusahaan di bagian akhir. Logikanya: editor bisa memotong dari bawah ke atas tanpa kehilangan inti berita, sehingga press release lebih mudah diterbitkan tanpa banyak pengeditan.

Berapa panjang press release yang ideal? Satu halaman A4, atau sekitar 400–600 kata. Press release yang lebih panjang dari itu biasanya mengandung informasi yang seharusnya tidak ada klaim promosi, pengulangan, atau konteks yang terlalu panjang. Jika informasinya benar-benar penting dan panjang, pertimbangkan untuk membuat media backgrounder terpisah sebagai lampiran.

Bagaimana cara mengirim press release ke jurnalis? Kirim melalui email langsung ke jurnalis atau editor yang meliput topik relevan dengan brand Anda bukan ke alamat umum redaksi. Tulis subjek email yang informatif, sertakan press release di badan email (bukan hanya attachment), dan lampirkan foto resolusi tinggi via link cloud. Ikuti dengan satu kali follow-up setelah 2–3 hari kerja jika tidak ada respons.

Apakah press release harus ditulis dalam bahasa formal? Bahasa jurnalistik bukan berarti kaku atau formal berlebihan. Gunakan kalimat aktif, hindari jargon industri yang tidak umum, dan tulis seolah Anda menjelaskan kepada pembaca media tersebut bukan kepada tim internal perusahaan. Bahasa yang terlalu teknis atau terlalu korporat justru membuat press release sulit diolah oleh jurnalis.

Apa beda press release dengan advertorial? Press release mengikuti format berita dan berfokus pada informasi faktual dan dikirim ke redaksi untuk dipertimbangkan secara editorial. Advertorial adalah artikel promosi yang ditulis dengan gaya copywriting dan biasanya berbayar di media. Keduanya bisa dipakai dalam strategi PR, tapi dengan tujuan dan pendekatan yang berbeda.

Apakah semua berita harus dibuat press release-nya? Tidak. Pilih momen yang benar-benar punya nilai berita: peluncuran penting, milestone perusahaan, kolaborasi strategis, atau isu yang menyentuh publik. Press release yang terlalu sering dikirim tanpa nilai berita yang kuat justru merusak kredibilitas brand di mata redaksi.


Langkah Konkret

Ambil satu press release yang pernah Anda kirim dan tidak diterbitkan. Buka kembali. Cek: apakah paragraf pertamanya menjawab 5W+1H? Apakah judulnya berbasis fakta atau berbasis klaim? Apakah kutipannya memberi sudut pandang yang tidak bisa disampaikan dalam format biasa?

Perbaiki tiga elemen itu terlebih dahulu sebelum menulis yang baru.

Dan jika Anda ingin proses review sebelum kirim agar tidak salah angle sejak awal ada dua cara kami bisa membantu:


Review Draft Gratis

Kami koreksi sudut pandang, struktur, dan tone naskah Anda agar layak redaksi sebelum dikirim ke media.

Daftar & kirim draft Anda di sini → (slot terbatas)


Publikasi Media Nasional + Optimasi SEO

Khusus untuk brand yang butuh eksposur cepat dan kredibel. Mencakup penulisan, distribusi ke media berindeks, dan optimasi agar rilis ditemukan di Google.

Pelajari paket & rincian medianya di sini →


Casa Kreatif membantu Anda bukan sekadar tayang tapi tayang di tempat yang tepat, dengan pesan yang tepat.


igital untuk bisnis Indonesia.
Ditulis oleh Baharudin Gia – Pendiri Casa Kreatif, Media Distribution & PR Agency.

Penulis: Baharudin GiaEditor: Karyati Niken S