Banyak brand mulai berkenalan dengan media dengan cara yang sama seperti menghubungi influencer:
langsung japri, menyapa, lalu berharap diliput. Hasilnya? Hampir semua berujung sama:
- tidak dibalas
- dibaca saja tanpa respons
- atau diarahkan “email saja, ya” tanpa tindak lanjut
Padahal masalahnya bukan di wartawannya. Masalahnya ada pada cara brand memulai komunikasi.
Menghubungi wartawan tanpa strategi itu seperti mengetuk pintu redaksi tanpa membawa alasan yang jelas.
Pintu bisa terbuka, tapi tidak ada alasan untuk Anda dipersilakan masuk.
Jika Anda ingin menghindari kesalahan yang bisa merusak peluang sejak awal, berikut adalah
lima kesalahan paling fatal yang sering terjadi, dan cara memperbaikinya dengan pendekatan profesional.
1. Menghubungi Wartawan Setelah Acara Selesai
Kesalahan paling umum.
Banyak brand baru mengirim pesan setelah event berakhir, berharap cerita masa lalu tetap menarik bagi media.
Faktanya:
- media bekerja dengan agenda
- konten lokal, bisnis, dan lifestyle punya kalender tayang
- kejadian yang sudah lewat jarang punya urgensi
Media menulis apa yang akan terjadi atau sedang berlangsung,
bukan apa yang sudah lewat—kecuali ada nilai berita di baliknya.
Contoh salah:
“Halo kak, acara kami tadi hebat sekali, apakah bisa dibantu diberitakan?”
Contoh benar:
“Kami akan mengadakan opening pada 12 Januari. Ada konteks industri yang relevan dan mungkin menarik
untuk desk bisnis. Bolehkah saya kirimkan press preview-nya?”
Untuk founder, pijakan awal PR yang aman biasanya dimulai dari kredibilitas, bukan klaim agresif. Ada panduan yang membahas prinsip kredibilitas tanpa over-claim untuk founder yang bisa jadi referensi sebelum masuk ke tahap eksekusi.
2. Mengirim Pesan Layaknya Menjual Produk
Wartawan bukan audiens. Wartawan bukan target pasar. Wartawan adalah pintu redaksi.
Pesan promosi seperti:
- “kami bangga menghadirkan…”
- “kami sedang promo…”
- “kami butuh exposure…”
bukan bahasa berita. Media tidak mempromosikan. Media memilih cerita.
Perbaiki dengan:
- temukan angle berita
- kurangi bahasa promosi
- gunakan bahasa yang mendekati gaya jurnalistik
Rumusan sederhana:
Event → Kenapa penting? → Untuk siapa? → Dampaknya?
3. Tidak Tahu Desk Mana yang Harus Dihubungi
Ini kesalahan teknis yang terlihat kecil, tetapi efeknya besar.
Setiap media punya desk berbeda:
- bisnis
- lifestyle
- ekonomi
- otomotif
- travel
- budaya
- teknologi
Mengirim bahan yang tidak relevan ke desk yang salah menunjukkan bahwa brand
tidak siap bermain di ranah media.
Contoh salah:
- mengirim info hotel ke desk olahraga
- mengirim info F&B ke desk ekonomi makro
Contoh benar:
“Materi ini relevan untuk desk lifestyle/travel. Apakah ada PIC khusus yang bisa saya kirimkan press preview-nya?”
Kalimat seperti ini menunjukkan respek terhadap struktur media.
Jika butuh panduan angka dan indikator, bahasan tentang mengukur efektivitas PR sejak awal bisa jadi starting point yang pas.
4. Meminta “Dibantu” Tanpa Menawarkan News Value
Kalimat seperti:
- “bantu exposure ya”
- “bantu diberitakan”
- “supaya viral dibantu ya kak”
bukan permintaan profesional. Wartawan tidak bertugas membantu brand; mereka
bertugas menjaga kepentingan pembaca.
Yang seharusnya Anda tawarkan adalah:
- nilai berita
- perubahan
- dampak
- relevansi
Pertanyaan kunci:
“Apa yang berubah di dunia pembaca karena berita ini tayang?”
Jika pertanyaan ini belum terjawab, komunikasi ke wartawan sebaiknya ditunda dulu.
5. Menekan dengan Deadline yang Tidak Relevan
Contoh yang sering ditemui:
- “Butuh naik hari ini ya kak”
- “Posting sebelum sore ya, tolong”
- “Bisa cepat ya?”
Kalimat seperti ini:
- menunjukkan tidak memahami alur editorial
- mengubah komunikasi menjadi negosiasi sepihak
- membuat brand kehilangan simpati sejak awal
Ingat: Anda membutuhkan mereka, bukan sebaliknya. Komunikasi editorial yang sehat
bersifat kolaboratif, bukan transaksional.
Bagaimana Cara yang Lebih Tepat?
Berikut pendekatan yang lebih realistis untuk brand pemula:
Langkah 1 — Riset
Temukan media yang relevan dengan industri dan audiens Anda. Tidak perlu banyak;
5–7 media yang tepat lebih efektif daripada puluhan yang sembarangan.
Langkah 2 — Tentukan Angle
Jawab pertanyaan dasar:
- apa yang terjadi?
- kenapa penting?
- siapa yang terdampak?
- apa relevansinya sekarang?
Langkah 3 — Kirim Preview
Sebelum press release final, kirim press preview untuk menguji ketertarikan media.
Langkah 4 — Siapkan Waktu Respons
Media bekerja cepat; brand perlu siap memberikan data tambahan ketika dibutuhkan,
bukan menunda sampai momen berlalu.
Peran Partner PR: Soft Authority Casa Kreatif
Dalam praktik kami di Casa Kreatif sebagai konsultan PR dan media strategist,
komunikasi awal dengan wartawan tidak pernah dimulai dengan “tolong dibantu”.
Kami memulai dari:
- memetakan news value yang bisa dipertanggungjawabkan
- memilih desk dan media yang relevan
- menyesuaikan momentum dengan agenda redaksi
- menawarkan preview, bukan tuntutan publikasi
Pendekatan ini membuat peluang liputan media menjadi lebih sehat,
bukan bergantung pada keberuntungan atau relasi personal semata.
Ringkasan Konsep
- Event sudah selesai → peluang kecil diliput → hubungi sebelum acara
- Pesan promosi → dianggap iklan → kirim angle berita
- Desk tidak relevan → tidak dilanjutkan → sesuaikan jalur redaksi
- Minta dibantu → terkesan tidak profesional → tawarkan news value
- Menekan deadline → hubungan buruk → negosiasi yang realistis
Kesimpulan
Menghubungi wartawan sebaiknya tidak dilakukan dengan hanya mengandalkan harapan,
tetapi dengan persiapan.
Jika pendekatan Anda dimulai dari:
- momentum yang tepat,
- nilai berita yang jelas,
- dan penghormatan pada struktur redaksi,
maka peluang diliput bukan lagi soal keberuntungan,
melainkan konsekuensi dari proses yang benar.
Jika tim Anda sedang memulai PR dan ingin masuk ke media
dengan cara yang aman dan profesional,
Casa Kreatif dapat membantu:
- memetakan news value brand,
- menentukan target desk dan media,
- menyiapkan komunikasi awal yang sesuai standar jurnalistik.
Tidak ada janji viral. Tidak ada “pasti naik”.
Yang kami tawarkan adalah arah yang benar untuk membangun hubungan jangka panjang dengan media.
Untuk kondisi di mana tim internal masih fokus ke operasional dan belum siap menjaga ritme hubungan media, solusi PR retainer bisa dievaluasi sebagai opsi pendampingan, tanpa harus langsung komit jangka panjang.
