Semua founder ingin terlihat meyakinkan. Itu wajar.
Masalahnya, banyak yang tanpa sadar tergelincir jadi over-claim: menjual visi yang belum siap diuji. Di titik ini, kredibilitas bukan tumbuh—tapi countdown menuju krisis justru dimulai.
Di era transparansi, klaim yang terdengar terlalu sempurna sering memicu kecurigaan, bukan kekaguman. Publik ingin bukti, bukan janji; progres, bukan proyeksi kosong. Di sinilah peran Public Relations (PR) organik jadi fondasi strategis bagi founder.
Paradoks Over-Claim: Semakin Tinggi Klaim, Semakin Tipis Kepercayaan
Founder sering merasa kalah start karena kompetitor tampak lebih vokal.
Akibatnya, muncul tekanan untuk “menyamakan level narasi”—meski data belum siap.
Sayangnya, kredibilitas tidak bisa ikut dipercepat hanya karena kompetitor viral.
“Komunikasi bukan sprint mengejar perhatian; ia maraton membangun kepercayaan.”
Risiko over-claim:
- ekspektasi publik meledak terlalu cepat
- gap antara narasi & realita makin lebar
- investor mulai bertanya, pasar mulai curiga
- konsumen merasa dibohongi → reputasi runtuh
Di titik ini, PR bukan lagi soal tampil keren.
PR adalah soal bertahan dengan terhormat.
Data sebagai Jangkar Kredibilitas
Komunikasi founder yang aman mengandalkan data riil.
Tidak perlu megah—yang penting bisa diverifikasi.
Format yang disarankan:
Fakta → Konteks → Dampak
Contoh narasi aman (siap pakai):
“Dalam 6 bulan, kami bertumbuh 32% secara organik. Masih kecil, tapi stabil. Fokus kami bukan mengejar angka agresif, tapi mencari product-market fit yang konsisten.”
Kenapa ini efektif?
Karena publik menghargai transparansi progres, bukan fantasi.
The Power of “Saya Belum Tahu”
Bagi sebagian founder, mengakui batasan terasa seperti kelemahan.
Padahal, di dunia profesional modern, itu justru sinyal akuntabilitas.
Contoh kalimat yang aman & profesional:
- “Bidang ini masih kami eksplorasi. Kalau ada insight relevan, saya terbuka belajar.”
- “Versi ini belum sempurna, tapi traksi awal menunjukkan indikator positif.”
Ini bukan tanda rendah diri.
Ini tanda humble expert—posisi kredibel yang semakin dicari investor & mitra.
Storytelling vs Story-Faking
Storytelling = Mengemas fakta + konteks jadi narasi menarik.
Story-faking = Mengarang, memotong realita, atau melebih-lebihkan pencapaian.
Ciri story-faking (checklist cepat):
- klaim tidak disertai data
- janji di masa depan dikemas seperti sudah terjadi
- testimoni palsu / hasil edit / konteks tidak lengkap
- timeline tidak jelas, milestone mengambang
Ketika story-faking terbongkar, publik bukan cuma hilang percaya.
Publik merasa dikhianati, dan itu lebih sulit dipulihkan.
Suara Pihak Ketiga: Lebih Tajam dari Klaim Founder
Dalam ekosistem PR, terdapat tiga sumber kredibilitas:
- Owned: konten buatan sendiri
- Paid: advertorial / placement
- Earned: review, testimoni, media coverage
Yang paling dihormati publik?
Earned.
Cara minta testimoni tanpa memaksa:
“Boleh bantu rangkum pengalaman Anda dalam 3 kalimat? Tidak harus manis—yang penting jujur. Itu membantu kami berkembang.”
Testimoni riil → jauh lebih kuat daripada klaim founder sendiri.
Framework Aman ala Casa Kreatif
Staircase Credibility Model
Bangun narasi bertahap, bukan sekali dorong.
- Visi: arah & misi utama, tanpa janji spesifik
- Eksperimen: apa yang sedang diuji & kenapa
- Validasi: bukti awal, indikator, respons pasar
- Progres: milestone nyata & konteksnya
- Trust: testimoni, studi kasus, earned exposure
Founder yang kuat bukan yang paling cepat viral,
tapi yang narasinya bertahan.
Kesimpulan
Kredibilitas bukan soal siapa paling duluan muncul ke permukaan.
Kredibilitas adalah soal siapa yang tetap dipercaya ketika badai informasi datang.
Di era transparansi, PR untuk founder bukan kompetisi suara paling keras.
Ini kompetisi konsistensi.
Kalau kamu ingin membangun narasi publik yang kuat tanpa over-claim, mulai dari hal sederhana: dokumentasi progres, kewarasan data, dan keberanian bilang “belum tahu”.
Insight Penting
Banyak brand gagal membangun hubungan dengan media bukan karena produknya buruk, tapi karena cara pendekatannya kurang tepat. Ada beberapa kesalahan umum saat menghubungi wartawan yang sebaiknya dihindari. Setelah ritme komunikasi mulai terbentuk, Anda bisa mulai pakai metode sederhana mengukur dampak PR untuk lihat progresnya. Dan kalau tim internal belum siap jaga konsistensi, opsi PR retainer tersedia untuk dievaluasi tanpa komitmen agresif.

