Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota besar lainnya adalah pusat bisnis yang bergerak cepat. Saat kompetitor semakin rutin muncul di media, banyak brand justru “tenggelam” hanya karena satu hal sederhana: sibuk.
Sibuk mengurus operasional.
Sibuk mengurus tim.
Sibuk mengurus pasar.
Dan akhirnya… tidak punya waktu menjaga hubungan media.
Di titik ini, reputasi bukan rusak karena kesalahan besar. Namun perlahan terkikis karena ketidakhadiran.
Kenapa “Sibuk” Justru Menggerus Reputasi Brand
Ketika brand jarang muncul di media, publik kehilangan konteks perkembangan bisnis kita. Dalam ekonomi informasi, reputasi tumbuh dari kontinuitas, bukan momentum sesaat.
Beberapa konsekuensi dari ketidakhadiran di media antara lain:
- Pembaca kesulitan memahami value dan progres bisnis.
- Jurnalis tidak punya alasan untuk mengingat brand kita.
- Investor dan mitra melihat kurangnya bukti sosial (social proof).
Sederhananya: tidak muncul = tidak diingat.
Baca Juga Founder, Hati-Hati! Over-Claim Bisa Jadi Bom Waktu Reputasi Bisnismu
Miskonsepsi Umum: PR Bukan Sekadar Kirim Press Release
Banyak yang berpikir PR cukup dengan satu kali kirim rilis saat launching produk atau buka cabang baru. Padahal, ini pendekatan project-based publicity yang jarang berumur panjang.
Di lapangan, PR bekerja layaknya investasi:
- Hubungan media dibangun, bukan dibeli.
- Kredibilitas ditanam bertahap, bukan sekali tanam langsung panen.
- Cerita disesuaikan ritme berita, bukan dipaksakan.
Karena itu, “sekali tayang” tidak cukup untuk membangun trust.
Realita Lapangan: Jurnalis Bekerja Berdasarkan Relasi & Relevansi
Muncul di media nasional atau daerah bukan hanya soal kirim email pitching. Ada tiga faktor yang menentukan peluang tayang:
1. Relevansi Topik
Isi rilis dan angle cerita perlu selaras dengan isu yang sedang dibahas publik, bukan sekadar kepentingan internal perusahaan.
2. Kredibilitas Sumber
Founder, CMO, atau perwakilan resmi perlu siap memberikan pernyataan yang jelas, bisa dicek, dan mudah dikonfirmasi.
3. Konsistensi
Nama yang dikenal dan sering muncul di media cenderung lebih diprioritaskan karena dianggap serius membangun komunikasi jangka panjang.
Inilah alasan pendekatan retainer lebih efektif dibanding project sekali jalan.
Keuntungan PR Retainer untuk Efisiensi Bisnis
Model PR Retainer bekerja seperti ekstensi dari tim internal, terutama bagi bisnis yang belum memiliki departemen PR sendiri.
Beberapa keuntungan utama PR Retainer antara lain:
Konsistensi Eksposur
Brand tetap hadir di media meskipun tidak selalu ada momen besar. Cerita bisa dikemas dari progres, kolaborasi, inisiatif sosial, atau inovasi yang sering terlewat.
Efisiensi Biaya
Retainer dapat lebih hemat dibanding membangun tim PR internal lengkap dengan gaji bulanan, tunjangan, dan biaya pelatihan.
Jaringan Media Siap Pakai
Agency sudah memiliki akses ke jurnalis yang relevan dengan sektor bisnis seperti teknologi, UMKM, hospitality, atau F&B, sehingga proses pitching bisa lebih terarah.
Crisis-Ready
Jika terjadi isu negatif, struktur komunikasi sudah disiapkan lebih dulu. Respons menjadi lebih cepat, terukur, dan tidak reaktif semata.
Liputan Multi-Lokasi
PR Retainer dapat mengakomodasi kebutuhan publikasi di Jakarta, Surabaya, Malang, serta kota besar lainnya seperti Bandung, Bali, Medan, atau Makassar.
Apakah PR Retainer Cocok untuk Brand Anda?
Gunakan checklist sederhana ini untuk menilai kebutuhan Anda:
| Kondisi Anda | Cocok? |
|---|---|
| Tidak punya tim PR internal | ✔ |
| Sering diberitakan hanya saat launching | ✔ |
| Tidak kenal jurnalis yang relevan | ✔ |
| Ingin membangun reputasi 6–12 bulan ke depan | ✔ |
| Butuh mitigasi isu reputasi | ✔ |
Jika sebagian besar jawaban Anda adalah ✔, PR Retainer berpotensi menjadi pilihan yang lebih efisien dibanding jalan sendiri.
Contoh Mini Kasus
Bayangkan sebuah brand F&B di Surabaya yang memulai kerja sama retainer selama tiga bulan. Dalam 90 hari:
- Dua publikasi tematik di media lokal.
- Satu sesi wawancara singkat dengan narasumber utama.
- Nama brand mulai dikenal redaksi sebagai pelaku usaha yang aktif.
Hasilnya bukan langsung “viral” atau “pasti tembus nasional”, namun ada progres yang terukur. Inilah pendekatan yang mengutamakan bukti, bukan sekadar ambisi.
Kesimpulan: Retainer Itu Investasi, Bukan Beban Biaya
PR Retainer bukan sekadar biaya tambahan di laporan keuangan. Model ini membantu Anda:
- Menjaga ritme kehadiran brand di media.
- Meningkatkan kepercayaan publik secara bertahap.
- Menghemat waktu dan tenaga tim internal.
- Membangun relasi yang berkelanjutan dengan media.
Di era informasi yang serba cepat, brand yang hadir konsisten cenderung lebih dipercaya dibanding brand yang hanya muncul sesekali.
Langkah Berikutnya: Diskusi Tanpa Komitmen
Jika Anda ingin mengetahui apakah PR Retainer cocok untuk kondisi bisnis Anda saat ini, langkah paling aman adalah memulai dari diskusi singkat.
Kita bisa menjadwalkan sesi sekitar 30 menit untuk:
- Memetakan kebutuhan komunikasi brand Anda.
- Menyesuaikan strategi dengan kota utama (Surabaya, Malang, Jakarta, atau kota besar lainnya).
- Mencari model retainer yang paling realistis untuk tahap bisnis Anda.
Fokusnya sederhana: progres dulu, bukan janji besar.
Kalau Anda ingin fokus mengembangkan bisnis tanpa harus mengurus hubungan media setiap hari, mungkin Jasa PR Retainer bisa jadi opsi yang layak dievaluasi. Tidak harus langsung mulai — pelajari dulu apakah cocok untuk kondisi bisnis Anda. Atau jadwalkan diskusi 30 menit tanpa komitmen — hubungi via WhatsApp.

